Tampilkan postingan dengan label NOVEL. Tampilkan semua postingan

Dream in Tokyo ` Part 11


“Jadi, maukah kau lanjutkan percakapan kita yang sempat terhenti?” Setelah cukup kenyang, aku memaksanya melanjutkan apa yang tengah kami bicarakan saat diperjalanan.
“Kau sangat berantusias sekali bila membicarakan pria asing tadi.” Ucap Tommy sambil menyeka mulutnya.
“Ti..tidak, tidak. Bukan seperti itu maksudku. Hanya saja aku sedikit penasaran dengan pernyataanmu tadi.” Aku berusaha mencari alasan yang cocok untuk saat ini.
“Baiklah, jujur saja aku merasa telah digantikan olehnya. Tapi kau harus ingat. Jangan dulu mempercayai pria asing. Berbahaya, bisa saja dia memiliki niat buruk padamu. Kau tahu, aku sangat mengenalmu melebihi siapapun, dan aku tak ingin kau terluka olehnya.”
“Kaneki orang baik, dia menyelamatkanku 2x hari ini.”
“Bisa saja itu hanya kedoknya.”
“Sepertinya ia tulus.”
“Kalian baru saja saling mengenal. 95% pria itu jahat menurutku. Jika ia tidak menyentuhmu, tidak memperlakukanmu dengan lembut seolah kau pacarnya, tidak membuatmu melakukan apa yang seharusnya dilakukan orang asing baru aku percaya padanya. Kecuali kalian sudah lama saling mengenal.”
Tunggu, pagi tadi Kaneki menyuruhku memeluknya dengan alasan aku harus memasukan tanganku kedalam saku jaketnya dan tadi saat mengantarnya ke UKS, dia.. dia memelukku dan tiba-tiba saja dia menggenggam tanganku saat bertemu Tommy. Oh tidak, dia melakukan semua hal yang Tommy bicarakan .
“Dan juga sepertinya ia suka mempermainkan wanita. Aku bisa melihatnya dari cara wanita tadi menggandengnya.” Aku hanya terdiam memikirkan semua ucapan Tommy. Apa aku benar-benar salah menilai Kaneki?
Tak lama seseorang yang kukenal datang kedalam restoran yang sama. Ya, itu Kaneki bersama Aoi. Seperti biasa Aoi tak pernah melepaskan tangannya dari Kaneki, dan Kaneki? Ia memang tampak menyebalkan seperti apa yang Tommy gambarkan.
Pada akhirnya, mata kami saling bertemu. Entah mengapa perasaan tak menentu ini tiba-tiba datang lagi. Padahal aku kira, aku akan sedikit membencinya kali ini namun perasaan ini masih tetap sama.
Aoi mengikuti pandangan Kaneki, akhirnya Aoi mengajak Kaneki untuk mendekat kearah kami. Aoi tampak senang bertemu dengan kemi, maksudku bertemu dengan Tommy. Semua kursi telah penuh dan akhirnya Tommy angkat bicara.
“Kalian boleh bergabung bersama kami.” Ucap Tommy mempersilahkan Aoi dan Kaneki untuk duduk.
Tunggu. Bergabung? Dengan mereka? Oh tidak. Dengan riang Aoi menerima tawaran Tommy dan akhirnya mereka duduk bersama kami. Aku duduk disamping Tommy dan bersebrangan dengan Kaneki. Kenapa harus seperti ini? Sialan.
Aku tidak bisa fokus dan mengendalikan diriku. Duduk berhadapan dengan Kaneki, membuatku gerogi. Meskipun tadi pagi kami melakukan hal yang sama tapi bila disebelah kami masing-masing bersama seseorang rasanya sedikit tidak nyaman.
“By the way, thank you for saving Rifka twice in one day” Mataku tiba-tiba menoleh kearah sumber suara berasal. Tampaknya Kaneki mengikuti gerakanku.
“No problem.” Balas Kaneki singkat. Tiba-tiba mata Aoi menyipit kearahku. Pandangan yang selalu ia berikan setiap kali bertemu denganku. “You’re saving her?” Ia meminta penjelasan lebih lanjut pada Kaneki, tapi Tommy kembali memotong.
“But now, i’ll beside her everywhere, and you don’t touch her again. She’s mine. You’d be better stay away from her” Kata-kata itu seketika membuatku semakin membelalakan mata.
“Tentu jika dia lebih memilihmu.” Kaneki tampaknya tidak mau kalah.
“Hohoho ternyata kau bisa berhasa Indonesia juga. Bagiku memang kau memiliki nilai lebih, tapi kau tetap jauh bila dibandingkan denganku.” Oh tidak, tampaknya mereka akan memulai pertengkaran lagi disini. Aoi tampak bingung atas apa yang sedang terjadi, akhirnya untuk mencegah pertengkaran lebih lanjut aku membujuk Tommy untuk segera mengantarkanku pulang dan untungnya ia segera menyanggupi tanpa berbasa-basi. Meskipun tak melihatnya tapi aku tahu Kaneki sedang memandangi kami saat pergi.
Selama perjalanan pulang banyak sekali hal yang aku pikirkan. Baik itu Tommy maupun Kaneki. Seluruh pernyataan dan tingkah laku mereka membuatku tak bisa berpikir dengan jernih. Aku membenarkan perkataan Tommy dan seluruh penilaiannya pada Kaneki namun disisi lain hatiku menyalahkan pemikiranku. Meskipun aku membenarkannya, namun begitu melihat Kaneki perasaan kesalku padanya tiba-tiba menghilang. Dan hatiku juga beranggapan semua yang dilakukannya padaku semata-mata agar dia mampu melindungiku. Mencegah agar aku tidak kedinginan karena cuaca pagi tadi dan juga memeluk karena aku benar-benar merasakan sesak yang sangat dalam.
“Aku merasa kasihan pada wanita yang bersamanya.” Tiba-tiba perkataan itu membangunkanku yang masih seperti terbawa mimpi. “Dia begitu polos hingga mau ditipu pria menyebalkan.” Kata-kata dengan nada yang sama, kembali terdengar. “Aku tidak akan mebiarkanmu merasakan hal yang sama seperti gadis malang tadi.” Tommy kembali membuatku bimbang. “Karena aku teman terbaikmu bukan?” Tiba-tiba pernyataan itu sedikit membuatku tenang. “Dan kita akan menikah saat kita dewasa nanti. Seperti apa yang telah kita janjikan.” Dan pernyataan terakhirnya seperti memberikanku sebuah beban yang sangat berat. Mungkinkah ia merasakan hal yang sama ketika aku menentang Tommy dan Vreya?







***JANGAN LUPA BERIKAN KOMENTARNYA***
DIBUTUHKAN KRITIK DAN SARAN YANG MEMBANGUN
DARI PEMBACA SEKALIAN
`Arigatou'

Dream in Tokyo ` Part 10


“Jika aku tidak sungguh-sungguh untuk apa datang kemari? Kau mengerti maksudku bukan?” Tommy tampak berusaha meyakinkanku.
“Bagaimana dengan Vreya?”
“Dia akan baik-baik saja. Tapi aku tidak berpikir kau baik-baik saja disini. Jadi aku memutuskan untuk menyusulmu kemari.”
“Bagaimana kau tahu aku disini?”
“Emm.. Jika kau ingin tahu, temani aku berjalan-jalan disini. Sepertinya cuaca cukup bersahabat.” Melihatnya memohon seperti itu sama sekali tidak menggerakan hatiku, namun begitu Kaneki berjalan dengan Aoi tepat dihadapanku, tiba-tiba sebuah kata meluncur begitu saja.
“Baiklah.” Oh tidak, apa yang aku pikirkan kali ini. Kaneki sama sekali tak melihatku, entah dia memang sengaja atau memang aku tak terlihat olehnya.
“Benarkah? Arigatou Rifka-sama.” Kata-kata itu membuatku sadar dengan siapa aku berbicara. Dia tampak kegirangan, raut mukanya seperti anak kecil yang diberi permen loli oleh Ibunya.
“Jadi, kau ingin pergi kemana?” Aku mencoba lebih bersahabat kepadanya meskipun aku tidak tahu mengapa aku harus bersikap seperti itu padanya. Sebenarnya apa yang tengah merasuki pikiranku?
“Hmm... Bisakah kita mengunjungi taman hiburan? Sepertinya aku memang butuh hiburan setelah merasakan ‘jet lag’. Padahal ini bukan penerbangan pertama kalinya, tapi ini sering terjadi padaku. Emm, tapi kalau kau tidak ingin kesana kita bisa cari tempat lain.”
“ Tapi cuaca seperti ini..”
“Tumpukan saljunya hanya sedikit kok. Tidak apa-apa.”
“Ok.”
Kami akhirnya berjalan menjauhi gedung sekolah dan tiba di halte bus untuk segera menuju taman hiburan. Akhirnya bus yang kami tumpangi datang juga. Sepertinya Tommy sudah mengenal kota Jepang dengan baik, mungkin karena sejak kecil ia selalu menghabiskan liburan di Jepang bersama Pamannya. Terkadang aku sering menangis ketika ditinggal Tommy berlibur dan memaksa Papa untuk pulang ke kampung halamannya, tapi Mama selalu melarangku pergi dan memaksaku untuk tetap tinggal. Sepertinya memang benar apa kata Kaneki, sampai sekarangpun  aku hanya gadis manja yang cengeng.
Akhirnya kami berdua ada didalam bus yang menuju taman hiburan. Sesuai janji aku memaksa Tommy untuk menceritakan apa yang sebenarnya sedang terjadi.
“Jadi.. bisa kau ceritakan kronologis kejadiannya? Bagaimana kau bisa tahu aku ada disini?”
“Itu mudah, saat aku tahu kau memutuskan pergi, tiba-tiba saja dadaku terasa sesak. Entah kenapa aku seperti kehabisan cadangan oksigen begitu saja. Tanpa pikir panjang aku berlari kerumahmu dan akhirnya aku bertemu Ibumu. Sepertiya aku telat beberapa jam untuk bertemu denganmu. Pantas saja kau tak mau membalas pesanku, ternyata itu detik-detik terakhir kau meninggalkan Bandung.” Ujarnya lirih.
“Lalu?”
“Setelah aku gagal menemuimu, aku memaksa Ayah untuk memindahkanku ke Jepang. Awalnya ia tidak setuju, nemun begitu mendengar ceritaku akhirnya ia mengijinkan dan memesankan tiket keesokan harinya.”
“Kau menceritakan pada Ayahmu? Tak ada bagian yang kau lewatkan?” Aku tampak tak percaya ia melakukan semua itu untuk bertemu denganku.
“Ya, tentu.”
“Tentangku juga?”
“Itu yang membuat Ayah mengijinkanku pergi.”
“Kau ini...”
“Tapi sekarang kau tahu kan? Aku benar-benar serius meminta maaf padamu.”
Aku tak bisa menjawabnya, hanya pria bodohlah yang mau mengejar wanita hingga keluar negeri.
“Kau tahu? Jika kau ingin meminta maaf, kau cukup mengirimku e-mail.”
“Tapi itu tidak akan cukup. Aku tahu benar-benar tahu siapa dirimu Rifka, kau dan aku sudah bersama sejak kecil dan kau takkan mungkin mau memaafkanku hanya dengan e-mail saja.”
“Benar.”
“Jadi, bila usahaku kali ini kurang cukup dimatamu, aku akan berusaha lebih lagi agar kau memaafkanku.”
“Lagipula aku pindah bukan hanya karenamu Tommy.”
“Biar kutebak. Randi?”
Aku tak mau menjawabnya. Bagaimana tidak, ia selalu mengetahui apa yang aku pikirkan tanpa perlu memberi tahunya. “Lalu, bagaimana kau tahu aku bersekolah disana? Masuk di kelas 11-3? Dan..”
“Kau memang tidak berubah, pertanyaan yang kau ajukan sangat banyak. Baiklah aku akan jawab semua pertanyaanmu Rifka. Aku mengetahui dari Ibumu bahwa kamu tinggal bersama Ayahmu. Jadi begitu sampai aku menghubungi Ayahmu dan menanyakan padaya dimana kau bersekolah dan dikelas apa kau sekolah disana. Jadi, apa Ayahmu tidak memberitahumu?”
“Papa? Tidak. Lalu kenapa kau baru masuk hari ini?”
“Sudah ku bilang setiap melakukan penerbangan aku selalu mengalami ‘jet lag’ dan baru hari ini kondisiku sudah membaik. Jadi, ada lagi pertanyaan lain yang harus ku jawab?”
“Tidak.”
Aku mengalihkan pandanganku keluar jendela, butiran butiran salju yang melayang-layang diudara. Berusaha menikmati perjalanan kali ini, namun belum sempat aku menghayatinya Tommy kembali memulai percakapan.
“Jadi, pria tadi itu pacarmu?”
“Pria.. Mana?” Dengan cepat aku mengalihkan pandanganku pada Pria yang sedari tadi duduk disampingku.
“Pria yang tadi membawamu menjauhiku?”
“Kaneki? Bukan, bukan. Dia hanya teman.” Semakin lama suaraku semakin pelan saja.
“Apa kau yakin? Sepertinya matamu mengatakan hal yang sebaliknya.”
“Tommy, kau ini bicara apa?”
“Ah sepertinya sudah sampai. Ayo turun.” Akhirnya kami berdua tiba di taman hiburan. Dan seperti yang kuduga, taman hiburannya ditutup untuk sementara waktu untuk mencegah kecelakaan karena cuaca yang kurang baik.
“Ah, sayang sekali.”
Tommy tampak kecewa sekali, sebenarnya aku ingin pulang tapi aku masih penasaran dengan pernyataan terakhirnya tadi. Rasa penasaran telah membuatku mengalah dan memutuskan untuk mencari hal lain yang mungkin bisa kami dapatkan sebagai gantinya.
“Bagaimana kalau mencari makanan? Perutku sangat lapar.” Aku berusaha mencari tempat yang mungkin bagus untuk kembali melanjutkan percakapan kami didalam bus, meskipun sebenarnya aku sedang tidak ingin makan banyak.
“Baiklah, ikuti aku.” Tommy tampak memberi aba-aba. Kami akhirnya tiba disebuah restoran mewah disekitar Haido Park, dengan melihat sekeliling saja rasanya dibutuhkan banyak uang untuk sekedar mencicipi hidangan pembuka.
“Kau yakin kita akan makan disini?” Tanyaku sedikit pelan pada Tommy.
“Mungkin ini usaha keduaku untuk membuatmu memaafkanku.” Tommy tampak tersenyum seolah ini cara ke-3 agar aku memaafkannya.
“Baiklah, asal kau tidak menyuruhku untuk membayarnya. Kau tahu? Aku tidak membawa banyak uang hari ini.” Balasku sedikit khawatir.
“Tentu saja tidak, aku yang traktir.” Balas Tommy riang.







***JANGAN LUPA BERIKAN KOMENTARNYA***
DIBUTUHKAN KRITIK DAN SARAN YANG MEMBANGUN
DARI PEMBACA SEKALIAN

Dream in Tokyo ` Part 9


“Rifka, darimana saja kau?” Tommy menyambutku dari mulut pintu kelas. Tak lama pandangannya dialihkan pada Kaneki yang berada tepat dibelakangku. Kaneki menghentikan langkahnya saat aku dihadang Tommy.
“Kau ini benar-benar memuakan!” Tommy berbicara lantang pada Kaneki.
“Kau seharusnya berkaca pada dirimu sendiri.” Balas Kaneki singkat dan kemudian menabrak badan Tommy dengan cukup kencang. Tanpa terasa kakiku tiba-tiba bergeser dengan sendirinya. Tunggu, Kaneki menarik tangan kiriku dan membawaku masuk kedalam kelas. Apa maksudnya ini Kaneki?
Aku berhasil berpindah sejauh 5 langkah, namun kakiku mendadak berhenti. Sepertinya ada sensasi panas pada pergelangan tangan kananku. Benar, Tommy menarik tangan kananku kembali dengan spontan langkah kaki Kanekipun terhenti.
Sebenarnya ada apa ini?
Kaneki membalikan badannya dan begitu tepat menghadapku sebuah pukulan mendarat tepat dihidungnya. Oh tidak, Kaneki mengeluarkan banyak darah dari hidungnya. Seisi kelas tampak terpaku melihat adegan yang terjadi didepan kelas. Semua tampak khawatir namun tak ada yang bergerak.
Begitu tersadar  apa yang terjadi, tanpa pikir panjang aku menampar wajah Tommy dengan tangan kiriku dan menarik paksa tangan kananku yang masih digenggam olehnya. Tamparanku mungkin tidak kencang, namun amarahku cukup tinggi.
Tanpa pikir panjang aku membawa Kaneki ke UKS. Entah bagaimana raut muka Tommy saat itu, yang jelas aku merasa harus bertanggung jawab pada Kaneki.
“Kau ini bodoh ya? Kenapa kau tidak melawannya?” Entah mengapa kekesalanku juga meluap pada Kaneki. Sesekali aku merasa khawatir melihat darah yang meluncur jatuh dari hidungnya.
“Hei, kenapa kau diam saja.” Nada suaraku kali ini sudah semakin tinggi. Tanpa terasa butiran hangat meluncur dari kelopak mataku. Benar, aku menangis. Entah apa yang membuatku menangis tapi ini semua telah membuatku sesak.
“Rifka, kau tidak apa-apa?” Kaneki menghentikan langkahnya begitu tahu aku menangis.“Oe, kenapa kau menangis? Aku tidak apa-apa, ini hanya luka ringan.” Mendengar pernyataannya yang seperti itu semakin membuatku ingin menangis. Bagaimana tidak, hari ini saja dia sudah menyelamatkanku 2x tapi yang kuberikan hanyalah sebuah luka.
“I..ini semua salahku.” Tanpa disadari suara tangiskupun pecah dengan cukup keras. Untunglah saat itu lorong menuju UKS sepi, dan akhirnya aku bisa menangis dengan tenang. Isak tangisku sepertinya cukup membuat Kaneki khawatir.
“Rifka, dengar! Aku tidak apa-apa, lihat? Aku baik-baik saja.” Namun aku masih belum bisa menghentikan tangisku. Tiba-tiba ia menarik badanku dan memelukku cukup erat. Perasaan tak enak yang menguasai hati dan fikiranku perlahan berubah menjadi tenang. Sekali lagi ia berbicara “Aku tidak apa-apa.”
Setelah tangisku mereda ia mulai melonggarkan pelukannya. “Dasar anak manja, ternyata kau cengeng juga.” Sebuah pukulan halus dikepala Kaneki luncurkan padaku. Entah apa maksudnya namun aku berhasil tenang. Belum juga sampai di UKS, ia memutuskan kembali ke kelas tanpa berkata-kata dan akhirnya aku mengalah mengikutinya.
“Sepertinya ia masih menyayangimu.” Tiba-tiba suara Kaneki terdengar lagi.
“Maksudmu?”
“Ia tidak akan melakukan hal seperti itu jika ia sudah benar-benar melupakanmu.”
“Tapi..”
“Bicarakanlah dengannya baik-baik, aku yakin dia memiliki alasan khusus mengenai kepindahannya kemari.”
Akhirnya kami tiba diruang kelas. Furukawa sensei tengah berdiri untuk memberi kami pelajaran sejarah Jepang. Sepertinya Kaneki berusaha meminta maaf atas keterlambatan kami dalam jam mengajarnya. Dan akhirnya kami dipersilahkan duduk. Semua orang sudah berada di tempat duduknya kecuali Tommy.
Hingga bel pulang berbunyi batang hidungnya tidak nampak sama sekali. Entah dimana anak itu berada. Perasaan waswas sedikit menyelimuti pikiranku. Entah apa yang sebenarnya terjadi disini, dengan perasaan campur aduk akhirnya aku meninggalkan gedung sekolah.
Seperti biasa Kaneki pulang bersama Aoi, dan aku? Aku seperti anak ayam yang tersesat tanpa tujuan. Akhirnya aku berjalan mengikuti langkah kakiku.
Saat hampir tiba di gerbang utama sekolah, aku melihat seorang pria yang tak asing disana. Aku tahu itu Tommy. Dengan berat hati aku mengikuti apa yang Kaneki katakan padaku. ‘Bicarakanlah dengannya baik-baik, aku yakin dia memiliki alasan khusus mengenai kepindahannya kemari.’
“Tommy, maafkan aku. Aku benar-benar tidak berniat menamparmu tadi.”
“Tidak, aku yang salah. Jadi maafkanlah aku.” Tommy tampak sangat menyesal telah melakukan hal yang kurasa tidak perlu. “Aku tak bisa mengendalikan amarahku. Aku tahu aku salah. Kamu sangat berbeda dengan Vreya dan aku benar-benar tidak mau kehilanganmu. Dan satu hal lagi. Tadi aku tidak memanggilmu dengan Vreya, mungkin pendengaranmu yang sengaja menyampaikan pada otakmu bahwa aku memanggilmu Vreya. Aku sangat yakin aku memanggilmu Rifka.”
Sial, sebenarnya ada apa ini?
“Kau memaafkan aku bukan?” kata-katanya membuatku semakin bingung,
“Tidak perlu waktu yang cepat untuk mengembalikan keadaan ini seperti semula, aku tahu semua butuh proses. Namun jika kau tak mau memaafkanku, aku akan lebih berusaha agar dapat membuatmu memaafkanku.”







***JANGAN LUPA BERIKAN KOMENTARNYA***
DIBUTUHKAN KRITIK DAN SARAN YANG MEMBANGUN
DARI PEMBACA SEKALIAN
`Arigatou'

►

- Copyright © 2013 シズカ 近松's Blog ^^ - Ore no Imouto - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -